Sorai Tak Berjudul - Yenni Nur Litasari

Card image

Sebuah Song Fiction Lagu Sorai oleh Nadine Hamizah

Pengarang: Yenni Nur Litasari (yenni10@man2kebumen.sch.id)

Kelas X IPS 2 MAN 2 Kebumen


Penggalan kalimat dalam email Yunni Nur Litasari (yenni10@man2kebumen.sch.id): Cerita pendek ini saya unggah di web write.as dan merupakan Song Fiction dari lagu yang berjudul "Sorai" yang dipopulerkan oleh Nadine Hamizah. Dan berikut ini adalah cerpennya:


Tidak seperti malam tahun baru yang lalu, tahun baru kali ini terasa hampa tanpa adanya seorang kekasih yang dulunya ada di sisiku. Tak hanya itu, sebab Pandemi Covid tidak ada lagi malam perayaan tahun baru. Langit yang biasanya bertaburan bunga api kini hanyalah terhiasi rintik hujan yang seolah menggambarkan sorak sorai kesedihanku.

Kala itu diantara megahnya bunga api di angkasa, rupa sang kasih nampak syahdu. Tentulah hati mana yang tak akan jatuh melihat rupanya? Malam dimana harsa terindah serta kenangan pahit terukir dalam benak, ada pada tanggal yang sama di malam ini di tahun lalu.

“Apa kopinya enak?” Tanya ibu yang datang dan menghampiriku. Aku terlalu sibuk melamun di loteng hingga lupa bahwa ibu masih disini.

“Kopinya pahit, tapi ini masih lebih baik daripada narkoba atau minuman keras,” jawabku.

“Karena narkobalah kekasihmu pergi.” Ibuku mengacak-acak rambutku dan pergi.

Andaikan kala itu aku berhasil mencegahnya, tentulah beban rasa bersalah di kalbu tidaklah terbenam di hati. Rasa yang tak pernah terungkap menjadi satu dari selaksa kesedihan. Meski tidak pernah bisa bersatu, namun sorai kita pernah bertemu.

“Hai, gadis yang sangat aku cintai. Bisakah bertemu denganmu sekarang? Janji pada diri sendiri untuk mengungkapkan rasa di tanggal ini tiada pernah bisa aku tepati. Jika saya mengikutimu bisakah kau anggap pernyataan cinta?”

Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya ada suara rintik hujan yang semakin gencar membasuh bentala bumi beserta petir yang semakin menggelegar.

Saat itu juga, kuputuskan untuk pergi ke dermaga tidak peduli apapun yang ibu katakan dan orang lain pandang. Segera aku masuk ke kapal dan berdiri di pinggiran dan meloncat ke bawah. Sekarang, aku bisa menemuinya dan menyatakan rasa.


Komentar Saya (Ahmad Fata):

Pertama kali saya melihat email kiriman dari Yenni Nur Litasari, sejujurnya saya agak terkejut. Pertanyaan saya saat itu adalah "ini benaran atau sekedar spam". Hal demikian diantaranya karana saya pribadi belum terlalu familiar dengan platform write.as. Saya cermati email tersebut, dan saya baca baca dengan seksama, eh siapa tahu ini adalah email jebakan (he..he.. berhati-hati lah daripada nanti terjadi yang engga-engga), apalagi dibelakang akun gmail yang saya gunakan terdapat data-data yang meski mungkin tak terlalu penting, namun masih membawa sebuah institusi yang bernama MAN 2 Kebumen.

Diantara tindakan kehati-hatian yang saya lakukan adalah saya googling dahulu "apa sih write.as itu?". Saya buka situs webnya juga saya cari ulasan-ulasan mengenai situs tersebut di web. Dan finally saya putuskan it is save, ya inshaallah ini aman. Setelah itu barulah saya buka tulisannya Yenni Nur Litasari. Selain itu saya sempatkan juga untuk mencari lagu "Sorai"-nya Nadine Hamizah di YouTube serta memperjelas arti kata sorai menggunakan Google Translate ... he..he.. ribet amat sih.

Nah sekarang komentar saya ya, tentu sebisa saya dan sebatas kapasitas saya sebagai bagian manusia di dunia ini yang seringnya hanya bisa berkomentar, tetapi mungkin jika disuruh berkarya, maka nol-lah hasilnya.

Temanya adalah "cinta" yang sad ending

Tulisan karya Yenni Nur Litasari ini menurut saya bertemakan masalah hubungan percintaan dua orang remaja. Sebuah hubungan percintaan yang bukan happy ending, itu dikarenakan salah satunya meninggal. Dan di akhir ceritanya, dikisahkan jika kenyataan tersebut pada akhirnya membuat sang tokoh berputus-asa sehingga kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya. Hemh ... kelabu sekali yah. Maksud hati baca cerpen untuk mencari hiburan, eh ujungnya malah sedih ... he..he.. (just guyon ..).

By the way saya mau berpesan kepada para pembaca "JANGAN BUNUH DIRI YAH!!". Sebab bunuh diri bukanlah penyelesaian masalah, serumit apapun masalah itu.

Okey ... saya akui pesan saya tersebut mengambil sudut pandang dari keimanan saya sebagai seorang muslim. Nah untuk sudut pandang keminanan yang lain, tentu saya tak akan membahasnya. Kembali pada masalah bunuh diri, Islam mengajarkan adanya kebangkitan setelah kematian di dunia. Nah, pada saat kebangkitan itulah saya katakan sudah tak ada kesempatan lagi bagi kita untuk mengoreksi atau memilih jalan penyelesaian untuk permasalahan atau kebahagiaan kita. Maksud saya, jika pada saat kebangkitan itu ternyata yang kita hadapi adalah sebuah masalah yang "rumit" sehingga seandainya diibaratkan seperti permasalahan saat kita masih hidup di dunia yang mungkin kita akan memilih untuk "BUNUH DIRI", maka pada saat itu kita sudah tak dapat lagi bunuh diri. You understand guys..!!. Belum lagi jika kita ingat kembali apa yang sudah diajarkan kepada kita sebagai seorang muslim tentang balasan apa yang akan kita terima untuk amalan bunuh diri. Well ..., tentang bunuh diri cukup yah.

Tokoh utamanya cowok atau cewek?

Nah ini sempat membuat saya bingung, sehingga saya harus beberapa kali mengulang membaca tulisan karya Yenni Nur Litasari untuk memastikan jenis kelamin sang tokoh utama. He...he.. yaa mau bagaimana lagi saya orang timur yang belum siap untuk menanggalkan identitas jenis kelamin pada KTP saya. Engga tahu kenapa demikian.

Dalam beberapa kasus, sekali lagi sebagai orang timur, saya menggunakan identitas gender sebagai salah satu alat menilai banyak hal. Diantaranya mungkin menilai sebuah tindakan seseorang itu pantas atau tidak, entah itu di dunia nyata atau di dunia khayalan.

Saya mendapatkan kesimpulan, jika sang tokoh utama ini adalah seorang cowok. Hal itu saya simpulkan dari penggalan perkataan dalam batin sang tokoh kepada sang kekasih yaitu "Hai, gadis yang sangat aku cintai ... dst". Sejujurnya saya sempat membayangkan jika sang tokoh adalah seorang cewek. Why? Ya tentu karena penulisnya adalah seorang Yenni Nur Litasari, seorang cewek. Sehingga saya sempat ragu-ragu, "sang tokoh ini cewek ataukah cowok?".

Sudah? Hanya itu?

Saya sedikit berharap, jika ceritanya agak panjang. Tetapi mungkin saja yang Yenni Nur Litasari kirimkan ini barulah sedikit penggalan saja dari karya besarnya. Mungkin jika saya pakai akun berbayar, akan dikasih full versinya yah .. he..he.... Saya komentari, bahwa cerita cerpen tersebut adalah bergaya "nanjaknya slow" (saya engga tahu istilahnya). Tentang gaya tersebut, pada podcast saya di Channel MAN 2 Kebumen bersama novelis dan cerpenis Fasihi Ad Zemrat, beliau katakan bahwa gaya penulisan seperti itu adalah kurang diminati penerbit. Tambahan saya, apalagi jika itu dilakukan oleh penulis pemula. Pada podcast tersebut dibahas, jika peluang untuk lolos terbit bagi novel bergaya "ngagetin dulu" pada beberapa penerbit adalah lebih besar. Mengapa? Itu dikarenakan, yang model "ngagetin dulu" itu berpeluang membuat pembacanya penasaran, sehingga akan melanjutkan membaca ceritanya.

Masih relevan dengan heading yang saya gunakan. Jika melihat alur ceritanya, saya ibaratkan seperti orang yang mungkin jika disamakan dengan orang yang mau naik bukit, maka itu ketinggian. Yah tepatnya mungkin, kayak orang mau naik gundukan tanah lah ya ... he..he.. Nah, itu sangat mungkin dikarenakan cerpen yang dishare oleh Yunni Nur Litasari ini barulah penggalan masterpiece karya beliau. Saya menduga tentang ini jika saya adalah benar.

Cerita ini sepertinya tak sampai 1500 kata, sampai-sampai saya harus menata hati dan pikiran saya untuk ngepas-ngepaske, oh bagian ini adalah pendahuluan, bagian ini mulai klimaks, bagian ini adalah klimaksnya dan seterusnya. Dan saya cukup berusaha berkata pada diri sendiri, wes..wes... marem ya.. marem ya.. Hal itu dalam rangka agar saya bisa melanjutkan kehidupan saya yang selanjutnya ..he..he...

OK... Yenni Nur Litasari! saya tunggu kelanjutannya yah.

Apresiasi saya

Bukan hal yang mudah untuk dapat menulis. Saya yakin akan hal itu. Apalagi menuangkan apa yang ada di dalam kepala ke dalam sebuah tulisan yang enak dibaca dan mampu menyetting sedemikian rupa otak pembaca saat membacanya. Nah, tentang hal itu Yenni Nur Litasari saya katakan hebat!!! dan lanjutkan!. Mungkin pada kesempatan lain saya sarankan juga untuk mencoba tema-tema yang lain, dan diantara hal yang menurut saya sangat penting adalah memberikan makna pada tulisan-tulisan kita.

Makna yang saya maksudkan adalah bagaimana agar tulisan-tulisan kita selain bisa menjadi hiburan juga ada muatan nasihat di dalamnya. Tentu nasihat bagi penulis sendiri dan kemudian bagi orang lain. Jika kita mampu melakukannya, maka bukan mustahil kita bisa meraih pahala dari karya tulis kita meski itu berupa dongengan atau hal fiksi khayalan.

Nah, untuk bisa seperti itu tentu sangat membutuhkan ketekunan. So, jangan berhenti menulis yah, meski mungkin kita tak bisa mencari penghidupan (nafkah) dari karya tulis kita. Saya ingat beberapa tulisan di beberapa media yang pernah saya tahu yaitu "jika mau kaya janganlah menjadi penulis" mau bukti? "diantara orang terkaya di negeri ini adalah juragan rokok, dan bukan penulis".

OK, jika kenyataannya memang demikian, maka bolehlah kita mencari nafkah di bidang lain, namun sembari menulis dikala senggang.

Rasanya komentar saya malah justru lebih panjang dari cerpennya yah, he..he.. saya cukupkan dulu lah. Yunni Nur Litasari!!.. saya tunggu kiriman tulisanmu yang selanjutnya.

7 Komentar

Terimakasih berkenan untuk memberikan komentar pada tulisan ini. Mohon hargai sesama dan gunakan bahasa serta penulisan yang baik dan sopan. Beberapa komentar menunggu moderasi terlebih dahulu untuk dapat ditayangkan secara publik. ... salam hormat!

  1. top bgt, alhamdulillah, monggo dilanjut...ditunggu post berikutnya

    BalasHapus
  2. Bagus dekπŸ‘, semangat terus bikin karyanya, menulis itu nggak gampang loh,tapi semua orang bisa melakukannya , menulis itu harus ekstra sabar dan penuh dengan perasaan😁

    BalasHapus
  3. Tambahan lagi, untuk cerpennya itu wataknya jangan dicontoh ya... Seberat apapun masalah yang dihadapi pasti ada jalannya kok, yakinlah jalan Allah itu bukan yang termudah bukan pula yang tercepat tapi sudah pasti yang terbaik.πŸ‘ Seberat apapun cobaan kita jangan pernah putus asa, masih banyak orang yang lebih berat cobaannya tapi mereka bisa menghadapinya. Mengapa kamu yang dipilih mendapatkan cobaan itu, itu karena Allah tahu kamu pasti bisa melaluinya, kamu bisa mengahadapinya. Jika kamu ditinggalkan oleh seseorang Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik kok, Allah tahu yang terbaik untuk kita. Yakinlah pilihan Allah itu yang terbaikπŸ‘πŸ™‚

    BalasHapus
  4. πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‘Œ

    BalasHapus
  5. Kreatifitas OK, ini tentu fiktif, imajinasi yang terbang merdeka dari penulisnya, arahnya saja yang berbeda dari setiap keinginan orang untuk menggapainya, yaitu kebahagiaan eeem jadi teringat lirik lagu anak-anak mushola yang mengiringi Allohu Kafi :
    Muda mudi di ini zaman
    Bukan tak pandai pengetahuan
    Ilmu dan azab ditinggalkan
    Sehingga diri bagaikan hewan

    Hari ke hari yang dipikirkan
    Kisah cinta dan kasih sayang
    Lupa mati tinggalkan sembahyang
    Sesal diri tak kepalang

    bukankah kemalangan yang diperoleh, baik bagi dirinya, orang tuanya, keluarganya yang sangat menyayangi sejak kecil bahkan sebelum lahir juga teman-temannya, mereka kehilangan, demi apa ?? tanya pada rumput yang bergoyang

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih berkenan untuk memberikan komentar pada tulisan ini. Mohon hargai sesama dan gunakan bahasa serta penulisan yang baik dan sopan. Beberapa komentar menunggu moderasi terlebih dahulu untuk dapat ditayangkan secara publik. ... salam hormat!

Lebih baru Lebih lama