Kisah Sahabat Ali Radhiyallahu Anhu dalam Sebuah Cerpen - Cerpen Sahabat Nabi

Oleh : Annisa Damayanti - (8) XII Agama

Cerepen Kisah Sahabat Nabi MAN 2 Kebumen

Bulan Ramadhan akhirnya tiba, Saya dan teman-teman pesantren saya yaitu Etika,Ida,Isma,dan Akhya sedang menikmati libur Ramadhan.Untuk memanfaatkan waktu tersebut saya dan keempat teman saya pergi ke langgar tempat ngaji saya dulu waktu saya masih kecil.Disitu saya bersama teman-teman saya membantu ibu-ibu yang sedang menyiapkan menu untuk berbuka puasa bersama nantinya sembari membantu ibu-ibu saya juga berinteraksi sedikit dengan anak-anak kecil yang ada d desa saya.

saya: "assalamualaikum anak-anak sampai hari ini masih kuat gak kalian puasanya??atau udah ada yang bolong nih?"

salah satu dari anak-anak tersebut menjawab.

Saya :"Alhamdulillah Full terus kak puasanya gak pernah bolong itu tuh si Dewi dia kemarin beli es teh di siang hari dia puasanya ada yang bolong huuuu...."

isma: sudah" yang penting kalian semua itu udah hebat udah berhasil belajar puasa sampai detik ini.hmm Kaka mau tanya kalian disini ada yang suka dengerin kisah" gak?"

anak" menjawab serempak "sukaaaa kakkkk"

Saya: "wah ternyata banyak yang suka baiklah sembari kita menunggu buka puasa bagaimana jika kakak Sekarang bercerita tentang kisah salah satu sahabat Rasulullah yang paling terkenal akan kecerdasannya..disini ada yg tau gak?"

Etika:"aku" kak ,pasti nama sahabat yang cerdas itu adl Ali bin Abi Talib kan kak?"

Saya:"hmmm betul sekali kak etika,100 buat kak etika.Jadi sahabat Ali bin Abi Talib itu adalah sahabat Rasulullah yg paling terkenal akan kecerdikan dan kecerdasan nya dibandingkan sahabat Rasulullah yang lain hingga beliau pun dijuluki Dengan sebutan "gerbangnya ilmu".

Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan “gerbang ilmu” dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, “Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?”

“Setuju!” jawab mereka serentak.

“Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja”, saran yang lain.

“Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas.”

“Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!” sahut yang lainnya.

Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”

“Tentu saja lebih utama ilmu,” jawab Ali tegas.

“Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, Namrud dan lain-lainnya, ” Ali menerangkan.

Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri.

Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”

“Lebih utama ilmu dibanding harta,” jawab Ali.

“Mengapa?”

“Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya.”

Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.

“Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?”

Ali kemudian menjawab bahwa, “Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?”

“Mengapa bisa demikian tuan?” tanya orang itu penasaran.

“Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya.”

Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, “Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu.”

“Apa yang menyebabkan demikian?” tanya orang itu mendesak.

“Karena bila engkau pergunakan harta,” jawab Ali, “jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak.”

Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, “Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani.”

Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, “Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu.”

Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, “Pemilik ilmu akan diberi syafa’at oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak.”

Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.

Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, “Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?”

“Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu,” jawab Ali.

“Kenapa begitu?” tanyanya lagi.

“Dalam waktu yang lama,” kata Ali menerangkan, “harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi.”

Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. “Seseorang yang banyak harta”, jawab Ali pada orang ini, “akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual. “

Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, “Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya.”

Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, “Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup.”

Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan ali memang pantas mendapat julukan “gerbang ilmu”. Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.

Akhya : "wahhh cerita tentang Sayyidina Ali tadi sangat mengagumkan ya anak-anak,,beliau sangat pandai dan cerdas dalam menjawab pertanyaan kaum Khawarij tadi.Tentu saja kecerdasan tersebut dibarengi dengan usaha yang kuat dan selalu berdoa kepada Allah."

Salah satu anak menjawab

"Iya kak,aku ingin sekali menjadi seperti Ali bin Abi Talib saat besar nanti"

Ida: "Tapi ingat kalian tidak boleh sombong,jangan suka memamerkan kepintaran dan kecerdasan kalian nanti karena nanti bisa menimbulkan iri hati pada orang lain dan menimbulkan perpecahan"

"SIAP KAK" jawab anak-anak serentak.

Setelah itu,adzan magrib pun terdengar seketika semua orang pun pergi untuk berbuka puasa.

Saya: Alhamdulillah rasanya segar sekali ya,,mungkin sampai disini saja ya pertemuan kami dengan kalian semoga di lain waktu bisa bertemu dan bercerita yang lebih bagus lagi.

"Ilallliqoq semuanya"😊dari saya dan teman-teman.

(Dikisahkan kembali dalam sebuah cerita sebagai tugas mata pelajaran ilmu hadits, yaitu membuat naskah cerita masa depan dengan konten "Keutamaan Para Sahabat")

Yuks, dukung Annisa Damayanti agar meraih nilai terbaik dengan membagikan cerpen ini serta memberikan komentarnya pada kolom komentar.

8 Komentar

Terimakasih berkenan untuk memberikan komentar pada tulisan ini. Mohon hargai sesama dan gunakan bahasa serta penulisan yang baik dan sopan. Beberapa komentar menunggu moderasi terlebih dahulu untuk dapat ditayangkan secara publik. ... salam hormat!

  1. lanjut dgn kisah kisah yang lain....siippp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap Bu semoga bisa lebih baik lagi👍

      Hapus
  2. Cerpennya sangat menarik, dengan membawakan kisah sahabat nabi SAW semoga kita semua bisa mendapatkan pahala dari Allah. Syukur alhamdulillah jika mba Annisa Damayanti untuk kedepannya bisa membuat novel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bu,,aminn
      Semoga saya bisa membuat cerpen yang lebih baik lagi😊

      Hapus
  3. Ceritanya bagus. Menginspirasi pembaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah,semoga di kemudian hari bisa membuat cerpen yang lebih baik lagi😊terima kasih

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih berkenan untuk memberikan komentar pada tulisan ini. Mohon hargai sesama dan gunakan bahasa serta penulisan yang baik dan sopan. Beberapa komentar menunggu moderasi terlebih dahulu untuk dapat ditayangkan secara publik. ... salam hormat!

Lebih baru Lebih lama