Hujan Peluruh Ragu - Juara 2 Lomba Cipta Cerpen pada Festival Sastra 2021 UGM


Hujan Peluruh Ragu

Oleh: Athia Az Zakia Anwar


Aku terbangun untuk kesekian kali dari tidur dengan posisi yang membuat otot leher pegal dan tangan kesemutan. Tidurku pun saat ini bukanlah disebabkan oleh kantuk tetapi lebih karena rasa bosan yang telah menggerogotiku sepanjang malam ini. Spontan mulutku mendesah kesal melirik ke arah jarum jam yang tampak bergerak seperti siput kelaparan, jarum jam tampak malas beranjak dari satu angka ke angka berikutnya.


Kuringkukkan lagi tubuhku ke atas meja kayu berbentuk panjang di hadapanku, walau kutahu tidur di kelas saat ada guru, itu perbuatan su’ul adab1, tapi otakku seolah memberi pembenaran bahwa akan lebih tidak sopan dan tidak beradab lagi jika aku tersadar di kelas dengan mataku terbuka, tetapi mulutku akan selalu berkomat-kamit dengan grundelan2 yang tak jelas musababnya. Komat-kamit yang tentunya bersumber dari kekesalan, kekecewaan, dan sakit hatiku.


Nyaris dua bulan berlalu, di tiap majelis diniyah3, tak pernah kusentuh buku tulisku, tak ada keinginan hati untuk sekedar mencatat materi bahkan untuk sekedar membuka atau membolak-balik lembaran kertasnya saja, aku sudah begitu enggan. Terlebih untuk membaca, murojaah4, atau menghafal materi, bahkan ketika sedang bersantai di kamar, sama sekali aku tak berkeinginan melakukan itu . Lagi-lagi pikiran kesalku membuat argumen sendiri untuk situasi saat ini, semua materi yang dipaparkan di depan kelas sudah ada di kitab pethuk5 jadi untuk apa aku menulis ulang di buku tulis. Jika saja di tiap pertemuan, aku merasa tak menemukan “bumbu-bumbu tambahan yang baru” yang bisa kusisipkan di buku tulis, untuk kuberi tanda bintang atau gambar hati atau garis bawah untuk semua materi baru yang kuanggap cukup penting atau berisi kebaruan bagi diriku.


Mengingat dua bulan ini, hatiku selalu dibuat kesal tak beralasan. Beberapa kali aku mengajukan pertanyaan, terkadang terkesan beliau tak kunjung menjawab, tetapi sekalipun beliau memberikan jawaban, hatiku entah mengapa merasa jawaban tersebut tidak tepat dan tidak memuaskan rasa keingintahuanku. Tentu saja untuk memantaskan diri, ketika beliau menjawab pertanyaan, kupasang gesture dengan anggukan-anggukan kepala. Walau hatiku menolak dan merasa kesal seolah gelasku yang kosong tidak terisi apapun.


Kulirik buku tulis bersampul batik dengan warna dominan biru di hadapanku, sebuah benda sederhana yang pernah selama satu bulan kutatap penuh semangat mengebu-gebu, bahkan layaknya sahabat setia, ia selalu kusambangi tiap malam, dari sekedar membolak-balik lembaran kertasnya hingga menjadi kusut dan lusuh, membaca untuk murojaah, menulis menambahkan catatan kecil, atau bahkan hanya memberi tanda, melingkari bagian-bagian yang kuanggap penting. Bahkan tragisnya, buku bersampul batik biru itu sering tanpa sengaja menjadi alas tidurku. Kini aku hanya bisa menatapnya dengan mata yang terasa memanas. Seolah muncul di kepalaku, potongan-potongan slide, tampilan sosoknya ketika sedang berbicara di depan majelis. Aku begitu bersemangat menyimak penjelasannya, tak pernah muncul rasa bosan, justru selalu tak sabar menunggu pertemuan berikutnya, untuk memeroleh hal-hal baru yang menggairahkan rasa hausku. Kusentuh penuh haru sampul buku tulisku, seolah sedang memutar ulang pemaparannya.


Ekpresi muramku sebisa mungkin kututupi dengan buku tulis yang kuhadapkan ke dekat wajah. Sekuat hati kucoba untuk menjalankan sebuah amanah. Amanah untuk selalu murojaah setiap hari dengan istiqomah5. Dengan erat kupegangi tepian kiri dan kanan buku, supaya raut wajahku yang tak semringah tak tampak oleh teman di samping apalagi tampak oleh sosok di depan yang sedang menyampaikan materi. Sambil duduk bersila dengan tubuh menegang aku yang duduk di barisan terdepan, merasa sepi dan sakit sendirian, tanpa sadar buliran air melintasi pipiku. Tak ingin orang lain tahu, kubungkukkan tubuhku ke meja dengan tetap bertutup buku seolah tidur pulas. Kutahan isakan tangis yang membuat air mata mengalir semakin deras.


Ya Allah aku lelah, aku tak ingin seperti ini, bertamasya kemanakah segala semangatku, berpaling kemanakah rasa cinta yang pernah berlabuh untuk sebuah majelis diniyah ini, kemanakah jiwa atlet lariku, kemana, kemana, kemana... Iringan lagu Ayu Ting Ting yang booming pada tahun 2011 itu terlintas di benakku menjadikanku seperti orang bodoh yang menertawakan diri sendiri.


Kuangkat wajahku menatap lekat jarum jam yang hanya bergeser empat centi meter dari posisi semula. Diiringi suara-suara dalil dan petuah dari sosok rupawan yang tampak begitu belia di depan papan tulis, kualihkan pandangan ke pelataran basah yang sedang diguyuri rintik gerimis. Menatap rintikan gerimis itu mengingatkanku dulu pernah menerobos hujan lebat disertai petir bermodal payung kecil pemberian dari sebuah produk kecantikan hanya untuk hadir ke majelis ini, demi mengejar materi dari sosok yang begitu kuidolakan, demi tak tertinggal materi.


Aku merindukan diriku yang dulu, tepatnya di kondisi tiga bulan lalu. Saat diriku yang begitu bahagia dengan kehadiran sosoknya yang berkharisma, di usia mendekati separuh abad, nyaris seusia ayahku. Beliau hadir di tengah majelis diniyah, ba’da Isya. Memberikan materi dengan gaya bertutur yang membuat jiwaku bergejolak penuh semangat. Gaya bertutur yang mampu menghidupkan api berkobar menyala-nyala, seolah gelas kosong dengan posisi terbuka yang dengan khusyuk siap menerima kucuran air, penuh khidmat. Aku yang diberi nama oleh ayah dan ibu, Asti Abhinaya, sebuah nama yang ayah ambilkan dari bahasa Sansekerta, dengan latar belakang ayah yang menyukai kisah pewayangan tentunya ayah berharap kelak sang anak gadis akan menjadi permata hati yang selalu bersemangat dalam kehidupan. Pastinya ketika anak gadis sulungnya kini sedang mengaji di pondok, ayah dan ibu selalu berharap aku akan bisa menjadi seorang santri yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu. Walaupun faktanya, awal di pondok ini aku bersikap “biasa-biasa saja” hingga terkadang muncul penyesalanku karena tak memiliki semangat itu sejak dulu, bahkan ketika aku pernah belajar di sebuah pesantren ternama di Jawa Timur. Andai saja, aku dulu tak banyak tidur, hari ini aku tak seperti gelas usang tak berisi.


Hingga akhirnya, saat ayah menyuruhku pindah pesantren karena faktor keuangan yang semakin banyak pengeluaran. Aku menuruti saja meskipun segala cinta masih tertinggal di pesantren lama, kupikir dulu aku tak akan berhasil menaruh cintaku pada pesantren baru ini. Namun, dua tahun aku menetap pikiranku goyah saat aku memasuki ruang majelis diniyah dan berjumpa dengan sosok yang aku harapkan menjadi pengajarku di tahun pertama. Sosok yang kuketahui dari cerita seorang teman sekamar, yang pernah merasakan menjadi bagian dari barisan murid beliau.


Semua rutinitas harianku di pesantren ini berubah begitu saja untuk pertama kali dalam alur kehidupan pesantrenku. Aku bisa membaca rutin dua lembar perharinya hingga khatam, bukan tentang seberapa cepat dan seberapa banyak aku belajar, tapi tentang keistiqomahan dan sendiko dawuh7 yang bisa kujaga, yang membuatku sendiri juga nyaris tidak percaya, aku mampu bersemangat sesuai arti nama pemberian ayah. Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga yang cukup berpendidikan. Ayah yang seorang guru madrasah aliyah dan ibuku seorang pengajar sekolah menengah pertama memiliki kegemaran membaca buku, sedangkan aku, baru saja membuka buku, mulutku langsung menguap. Perihal itu saja membuat aku malu hati, namun aku sendiri juga bingung, tidak tahu bagaimana caranya supaya aku bisa untuk menyukai kegiatan membaca buku. Akan tetapi, setelah sosok berkacamata dan berambut hitam berselang-seling putih keperakan itu hadir dalam majelis diniyahku, aku memiliki harapan besar untuk segala impianku, terutama untuk memulai hobi membaca buku. Sosok beliaulah yang memberi banyak wejangan di hari pertama masuk majelis diniyah. Satu pesan yang akan selalu aku ingat “jika kita ingin BISA terhadap suatu hal yang TIDAK KITA SUKA. Maka, usaha itu HARUS DIPAKSA! Sesuatu yang awalnya dipaksa atau terpaksa, maka lama-lama juga kita akan TERBIASA, dan akhirnya KITA PASTI BISA!”


Semua harapanku mulai kuhapus perlahan setelah sosok yang kupanggil “Pak” itu memohon izin untuk rehat dari mengajar. Kemudian pengurus mengutus seorang “Pak” yang muda belia untuk menjadi pengajar baru di majelis diniyahku. Suatu hal yang sempat aku khawatirkan setelah malam perpisahan itu, akhirnya benar-benar terjadi. Dua bulan ini, aku telah kehilangan rasa semangat yang tadinya singgah di kalbuku dengan begitu indahnya sesuai doa ayah dan ibu yang disematkan pada namaku. Seolah kesalahan lama, kini terulang kembali. Semangat yang luntur terbawa guyuran air di musim penghujan. Kini tabiat tidur di kelas menjadi jalan ninjaku, jika bosan mulai menghampiri di majelis diniyahku.


***

Suara petir menggelegar berhasil membuatku tersadar dari lamunan dan menjatuhkan buku tulis dari genggaman tanganku. Aku tersipu tapi segera bersikap seolah tak bersalah. Perlahan kuambil buku tulis di bawah meja, tampak terbuka sebuah halaman dengan bebeberapa baris kalimat yang tertulis dengan pena bertinta biru. Kubaca setiap huruf bertinta biru tersebut dengan mengernyitkan kening dan tersenyum tipis membaca quotes yang dulu rutin kucatat setiap hari di majelis diniyah. Ada sebuah quotes yang membuatku ingin tertawa saat ini, aku tak bisa mengelak bahwa quotes itu sangat sesuai dengan situasi hatiku, “bahagia itu dibuat- bukan dicari!”


Suara salam dari sosok bapak muda belia berkopiah hitam itu membuatku menutup buku cepat-cepat, pertanda bahwa pembelajaran telah usai, dan aku ingin segera kembali ke kamar meninggalkan majelis ini. Namun hujan di luar membuat kami semua terjebak di kelas untuk menunggu hujan reda.


"Asti"


Suara Bapak itu memanggilku ke depan. Ketika aku sudah berdiri dengan kepala tertunduk Bapak muda belia itu menyodorkan sebuah kitab kuning dengan satu kotak dibungkus kertas coklat.


"Waktu itu kamu mau pesan Kitab Asmawi8 kan sama beliau?"tanya bapak muda belia.


Enjeh9 Pak" jawabku singkat mengiyakan.

"Ini kitab dari beliau, pesan beliau ndak apa-apa kamu punya dulu kitabnya, untuk mahir membacanya bisa belakangan" kata bapak muda belia, yang semestinya belum pantas dipanggil Bapak, tapi budaya di pondok pesantrenku jika guru pengajar laki-laki pasti dipanggil "bapak" seberapapun usianya. Beliau tersenyum sembari mengulurkan bungkusan coklat kepadaku.


"Berapa harganya Pak?" Tanyaku masih sedikit terbengong.


"Ndak usah kata beliau, itu hadiah dari beliau biar kamu tambah semangat ngajinya" beliau kembali menjawab masih dengan tetap tersenyum.

"Oh, njeh Pak. Sampaikan ke Pak Aiman, maturnuwun9 sanget Pak," kataku sembari menerima kitab dan kotak kecil itu dan ucapan terima kasih dengan senyum yang sedikit canggung.


***


Sesampainya di kamar aku buka kotak kecil yang berbungkus kertas polos berwarna coklat itu. Sebuah tasbih digital berwarna kuning dan selembar kertas berisi tulisan tangan dari sosok guru kebanggaanku. Kuakhiri membaca tulisan beliau dengan isak tertahan. "Ilmu tak akan barokah tanpa adanya rasa cinta pada ilmu dan sang pemberi ilmu. Saya tahu persis bagaimana Pak Muz orangnya, dia adalah teman adik saya ketika sekolah di madrasah aliyah dan juga pernah menjadi teman sekamar dengan ponakan saya, jadi saya rasa dia orang yang tepat untuk menggantikan posisi saya. Cintailah dan hormatilah gurumu, siapapun itu, kapanpun itu, di manapun itu, sebenci apapun kamu terhadapnya ia tetap gurumu yang akan tetap mencintaimu sebagai seorang murid. Ini ada sedikit kenang-kenangan dari saya sebagai bentuk penepatan janji saya, karena kamu berhasil menjadi penghafal syi’iran tercepat, semangat Asti". Tertanda Pak Aiman.


Hujan di luar kamar makin lama terasa semakin deras. Tak terasa dada yang semula penuh gemuruh luka penuh kehilangan, kini terasa lebih lega. Terasa sejuknya dingin malam mengalir memenuhi kalbu.


***

Glosarium:

  1. Su'ul Adab : tak punya ada/berperilaku buruk
  2. Grundelan : omelan;curahan hati; ungkapan ketidak puasan.
  3. majelis diniyah : kelas yang mengajarkan materi keagamaan (materi pondok)
  4. murojaah : mengulas materi pembelajaran
  5. kitab pethuk : Kitab yang sudah ada maknanya
  6. istiqomah : berkelanjutan/terus menerus
  7. Sendiko Dawuh : sikap selalu patuh dan hormat
  8. Kitab Asmawi : kitab kuning (kitab pegon)
  9. Enjeh/Njeh : Iya/ya
  10. Maturnuwun : terima kasih

Post a Comment

Terimakasih berkenan untuk memberikan komentar pada tulisan ini. Mohon hargai sesama dan gunakan bahasa serta penulisan yang baik dan sopan. Beberapa komentar menunggu moderasi terlebih dahulu untuk dapat ditayangkan secara publik. ... salam hormat!

Lebih baru Lebih lama